Mengangkat Ekonomi Lokal, Rachmat Gobel Ajak Galakkan Produksi Mie Dari Sagu

Agresif.id, Lingga  Indonesia merupakan negara importir gandum terbesar di dunia. Di tahun 2019, impor gandum Indonesia sekitar 10,7 juta ton atau sekitar US$2,8 miliar. Akibat impor yang besar ini, devisa negara tersedot cukup besar. Dengan mengembangkan industri yang berhulu tepung sagu itu maka Indonesia bisa hemat devisa negara.

Hal ini yang menjadi perhatian Wakil Ketua DPR RI Bidang Industri dan Pembangunan Rachmat Gobel saat meninjau pabrik pengolahan tepung sagu, dalam rangkaian kunjungan kerjanya di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, Selasa-Kamis (2-4/3/2021).

Di Kabupaten Lingga, tanaman sagu sudah menjadi tanaman budidaya yang sudah turun temurun. Walau usia panen pohon sagu butuh waktu hingga tujuh tahun, pasokan selalu tersedia. Tepung sagu merupakan basis bahan pangan dan penganan tradisional di daerah itu.

“Kita harus mulai bisa memproduksi mie dari tepung sagu. Ini lebih sehat dan lebih baik,” ujar Gobel dihadapan Bupati, Wakil Bupati serta para pejabat di lingkungan daerah itu.

Pada tahun 2020, berdasarkan estimasi Kementerian Pertanian, produksi tepung sagu Indonesia sekitar 472 ribu ton. Riau adalah produsen terbesar, sekitar 374 ribu ton. Sedangkan Papua 67 ribu ton dan Maluku sekitar 9 ribu ton.

Angka itu jauh di bawah tepung gandum. Namun jika konsumsi meningkat maka produksi akan mengiringinya. Pekerjaan rumahnya adalah pada pembudidayaannya yang harus digalakkan.

Satu pohon sagu bisa menghasilkan 150-300 kg tepung sagu. Penggalakan penganan dari sagu juga akan menyerap tenaga kerja yang besar serta menyejahterakan rakyat desa, khususnya di daerah-daerah remote yang selama ini tertinggal seperti di Papua, Maluku, Sulawesi, dan Riau serta Kepulauan Riau. Mereka inilah yang sudah terbiasa dengan tanaman sagu.

Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel saat berada di pabrik pengolahan tepung sagu di Kabupaten Lingga, Kepri (Foto: Dok. NasDem)

“Dengan menggalakkan mie sagu ini menunjukkan kemampuan kita dalam mengangkat kearifan lokal,” pungkas wakil rakyat daerah pemilihan Gorontalo itu.

Dalam kunjungannya di pabrik pengolahan tepung sagu itu, Gobel ditunjukkan contoh produk mie dari tepung sagu yang sudah dikemas secara moderen sama seperti mie instan dari tepung gandum. Sebagai pimpinan DPR, ia akan memfasilitasi industri mie tersebut.

Selain itu, Gobel juga ditunjukkan produk-produk kreativitas industri rumahan ibu-ibu yang terbuat dari limbah sagu. Mulai dari sabun cuci, sanitizer dan lain-lain.

Lebih rendah kadar glukosa darah

Direktur Pusat Teknologi Agroindustri Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Arief Arianto mendampingi kunjungan kerja legislator NasDem itu mengatakan, Makanan yang berasal dari tepung sagu, indeks glikemiknya lebih rendah dibandingkan dengan makanan dari tepung gandum.

Ditambahkannya, indeks glikemik adalah angka yang menunjukkan potensi peningkatan gula darah dari karbohidrat yang tersedia pada suatu pangan. Indeks glikemik tepung gandum berkisar 70 dan mi gandum sekitar 48. Sedangkan indeks glikemik tepung sagu sekitar 65 dan mi sagu 28.

“Ini berarti waktu yang dibutuhkan untuk mengubah karbohidrat menjadi glukosa (gula) pada tepung sagu lebih lambat daripada tepung gandum. Hal ini bagus bagi orang yang ingin mengontrol gula darahnya maupun bagi yang bermasalah dengan kolesterol. Hal ini juga bagus untuk kesehatan jantung maupun untuk keseimbangan berat badan,” papar Arief. (rls)

Advertisements